Sun
Rss

Rabu, 23 Desember 2015

Dari Bahan yang Dibuang, UKM Ini Raup Untung



Dari Bahan yang Dibuang, UKM Ini Raup Untung



Keuntungan bisa diperoleh dari kreasi dan kepandaian membaca pasar maupun kesempatan.

Hal itu dibuktikan oleh Sholihin dan Ishaq Wahyudi. Kedua orang ini dengan jeli memanfaatkan dan mengolah barang-barang yang dianggap sudah tidak berguna lagi, sehingga menjadi sesuatu yang bernilai.

Sholihin memulai pekerjaan sebagai perajin sandal pada tahun 2004 yang membuatnya memiliki keterampilan menjahit.

Pria asal Cepu, Jawa Tengah yang kini berdomisili di Denpasar, Bali ini kemudian nekat memulai usaha sendiri dengan keterampilan menjahit yang dimilikinya, yakni membuat dompet kain pada tahun 2005.

Dompet buatannya tersebut dipasarkan di sebuah artshop atau toko benda seni yang menjadi langgannya hingga kini.

Di toko seni tersebutlah ia bertemu untuk pertama kalinya dengan seseorang dari mancanegara yang membuka kesempatannya untuk memasarkan produk untuk pasar ekspor.

Sholihin pun kini memproduksi berbagai benda kerajinan yang seluruhnya dipasarkan di luar negeri. Ia membuat tas dari bahan-bahan yang selama ini dianggap sampah yang tak berguna, seperti karung goni bekas cengkeh, kantong tepung terigu, hingga ban dalam mobil yang dikreasikannya menjadi tas modis dan bernilai tinggi.

"Tas bekas kantong terigu itu pesanan dari Spanyol. Tas karung goni bekas cengkeh diekspor ke Perancis, ini unik karena tasnya masih ada aroma cengkeh, pembeli di sana suka karena eksotis. Ada juga tas kecil yang tiap tahun dipesan dari Kanada, saya bisa membuat sampai 25.000 buah," kata Sholihin di kediamannya di Denpasar, akhir pekan lalu.

Tidak hanya itu, Sholihin dan sang istri, Atin, pun memproduksi tirai yang terbuat dari bahan serupa kaleng bekas minuman yang merupakan pesanan dari sebuah toko kerajinan di Ubud, Bali.

Ia menjelaskan, tirai tersebut hanya dijual di kedua toko tersebut dan dibeli oleh para turis asing, umumnya dari Belanda.

Lain lagi dengan Ishaq Wahyudi yang memproduksi kerupuk kulit atau rambak ikan tuna. Menurut Ishaq, selama ini kulit ikan tuna seringkali menjadi sampah lantaran tidak turut diolah sebagai hidangan.

Setelah mencoba menciptakan kreasi, ia pun berlabuh pada kreasi kerupuk rambak ikan. Kreasi kerupuk rambak ikan produksi Ishaq pun tidak langsung digemari konsumen.

Awalnya, Ishaq mengaku, banyak orang yang tidak percaya bahwa kulit ikan dapat diolah menjadi panganan yang rasanya enak dan gurih.

"Awalnya banyak yang enggak percaya kalau ini tidak enak. Sekarang saya bisa produksi 100.000 bungkus per hari. Karyawan saya sudah 9 orang," ujar Ishaq penuh semangat.

Menurut Ishaq, ada beberapa kelebihan kerupuk rambak ikan produksinya ketimbang produk kerupuk sejenis. Ia menjelaskan, kerupuk rambak ikan produksinya melalui proses penggorengan hingga kering dan sebelumnya pun telah dikeringkan.

"Yang lain itu (kulit ikan) masih basah, dikasih bumbu, lalu digoreng. Kalau ini lebih enak karena setelah dikeringkan digoreng lagi sampai kering. Kalau yang masih basah itu nanti agak amis. Produk saya sudah sampai ke seluruh Denpasar dan Gianyar," jelas Ishaq.

Sholihin dan Ishaq sama-sama memiliki pola kerja yang serupa dalam merintis, menjalani, dan mengembangkan usaha. Keduanya tidak takut untuk berinovasi dalam mencipta produk yang unik. Selain itu, keduanya pun tidak takut untuk menciptakan dan menjual produk yang unik dan berbeda, hingga akhirnya memperoleh kesuksesan.


Penulis


: Sakina Rakhma Diah Setiawan
Editor
: Erlangga Djumena


Dikutip dari Kompas.com


Bagaimana cara Manajer Investasi mengelola Reksa Dana?



Bagaimana cara Manajer Investasi mengelola Reksa Dana?

Berinvestasi di reksa dana ibarat mempekerjakan orang untuk mengelola uang di pasar modal. 

Namanya juga mempekerjakan orang, selain cari yang ahli tentu cara kerjanya juga harus cocok supaya investor merasa nyaman mempercayakan investasi.

Dalam artikel ini, kita akan membahas mengenai bagaimana cara Manajer Investasi dalam mengelola suatu reksa dana.

Divisi pengelola investasi umumnya terdiri dari 3 bagian yang memiliki fungsi masing-masing.

Pertama, analis yang bertugas mengumpulkan dan melakukan analisa terhadap data-data perekonomian dan perusahaan. Pekerjaan analis ini juga sering disebut dengan riset.

Bagian kedua yaitu manajer investasi, yang bertugas mengambil kesimpulan mengenai berapa bobot saham, obligasi dan pasar uang dalam membentuk portofolio reksa dana. Kebanyakan dari para manajer investasi memulai karirnya dari bagian riset, namun ada juga yang tidak.

Bagian ketiga yaitu dealer, yang bertugas mengeksekusi transaksi pembelian saham, obligasi dan pasar uang berdasarkan perintah dari manajer investasi.Mereka juga yang menentukan alokasi transaksi ke masing-masing sekuritas jika manajer investasi bertransaksi menggunakan jasa beberapa perusahaan sekuritas sekaligus.

Secara umum, proses pengambilan keputusan oleh yang terjadi dalam pengelolaan reksa dana adalah sebagai berikut :




Dikutip dari kompas.com
Oleh Rudiyanto
@rudiyanto_zh

Adakah perusahaan nasional yang usianya di atas seratus tahun?

http://www.pacificplace.co.id/media/BRI-400x277.jpg


Adakah perusahaan nasional yang usianya di atas seratus tahun?

Pertanyaan itu sering diajukan para akademisi kepada saya. Susah juga mencarinya. Di negara-negara industri, itu sudah biasa.
Di Finlandia misalnya ada Nokia (150 tahun). Tetapi Nokia hanya menekuni bisnis gadget ponsel sekitar 21 tahun. Selebihnya perusahaan berumur panjang itu produk dan misi usahanya sudah jauh berubah.
Di Amerika Serikat (AS), pernah ada Kodak, tapi kini sudah mati. Juga ada WR Grace. Perusahaan ini berlokasi di Columbia, Maryland, AS, dengan bisnis utama bahan-bahan kimia.
Semuanya juga berubah, mengikuti zaman. Di Jepang ada Mitsui. Kalau di Jerman, persisnya di Munich, mungkin Anda cukup familiar dengan nama Siemens.
Adakah di Indonesia? Tentu ada. Hanya saja kebanyakan sudah terseok-seok dimakan usia. Misalnya, beberapa pabrik gula warisan Belanda.
Kalau Pertamina yang minggu lalu berulang tahun, baru merayakan usia ke 58. Meski belum seabad, lumayan menghibur karena ia sudah ada di Fortune 500 dan cukup sehat.
Jadi, siapa yang sudah lebih dari 100 tahun dan masih sehat?
Sengaja tulisan ini saya turunkan hari ini, karena hari ini ada perusahaan nasional yang merayakan usia ke-120, namun tetap gesit berinovasi. Bahkan bidang usahanya tak bergeser dari misi semula: microfinancing.
Seorang ilmuwan Amerika pernah mengatakan, harusnya yang diganjar hadiah Nobel bukan Moh Yunus, melainkan mendiang Raden Aria Wirya Atmadja. Sebab itulah tonggak awal sejarah microfinance yang mengilhami Yunus.
Tonggak sejarah itu berawal pada tanggal 16 Desember 1895, saat Raden Aria Wirya Atmadja dan kawan-kawannya mendirikan “De Poerkertosche Hulp - en Spaarbank der Inlandsche Hoofden” (Bank penolong dan tabungan bagi priyayi Poerwokerto) disingkat menjadi “Bank Priyayi Poerwokerto”.
Bank Penolong
Itulah cikal bakal dan misi gerakan microfinancing Indonesia: menolong keuangan rakyat. Sedemikian powerful-nya menolong ekonomi rakyat di sekitar Purwokerto, sampai-sampai ia ditakuti Belanda karena dianggap mampu menggerakkan kekuatan untuk melawan kolonialisme. Wajar kalau dalam perjalanannya ia pernah diambil Belanda.

Tak heran kalau itu pulalah yang mengantarkan masa kecil presiden ke 44 Amerika Serikat, Barack Obama berkenalan dengan Indonesia.

Ibunya, Ann Dunham datang ke Indonesia antara lain untuk meneliti tentang peranan microfinance dan bank penolong rakyat ini.
Kini bank penolong yang didirikan Raden Arya Wiryaatmaja itu dikenal sebagai PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI) .

Anda tentu bisa menyaksikannya dari dekat, karena dialah satu-satunya bank yang ada di hampir setiap desa di tanah air, bahkan mungkin ada di setiap pasar tradisional. Perusahaan ini masih sangat sehat bukan tanpa alasan. Lihat saja kinerjanya.

Sepanjang 2014, BRI membukukan laba bersih Rp 24,2 triliun. Kalau salah satu ukuran kinerjanya adalah besarnya angka penyaluran kredit, tahun lalu kredit yang disalurkan BRI mencapai Rp 490,41 triilun.

Untuk tahun 2015, di tengah kinerja perekonomian nasional yang kurang menggembirakan, BRI masih menargetkan penyaluran kreditnya Rp503,6 triliun.
Baiklah, saya tak mau mengajak Anda terlalu repot membaca angka-angka. Intinya, sampai kuartal III-2015, semuanya tumbuh menggembirakan.

Pengakuan soal kinerja ini juga datang dari majalah The Banker yang diterbitkan The Financial Times yang pada awal Desember 2015 memberikan penghargaan Bank of The Year 2015 Indonesia.

Dikutip dari kompas.com

Oleh Prof Rhenald Kasali
 @Rhenald_Kasali

Pemerintah Umumkan Penurunan Harga BBM



Pemerintah Umumkan Penurunan Harga BBM

Bagaimana perasaan anda jika harga Bahan Bakar Minyak turun?

Mungkin untuk para pengguna kendaraan bermotor hal tersebut akan meringankan pengeluaran untuk membeli BBM.

Seperti yang di kutip dari kompas.com Rabu (23/12/2015) – Pemerintah berencana mengumumkan penurunan harga BBM untuk Januari 2016. Harga Premium akan turun pada kisaran Rp 200 – Rp 300 per liter adapun untuk harga solar, menurut Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Migas) Kementerian ESDM I Gusti Nyoman Wiratmadja Puja, bisa turun lebih dari Rp 500 per liter.   

Ia menjelaskan, sesuai dengan aturan, kebijakan penurunan harga per tiga bulan serta kuantitasnya mengikuti harga pasaran. Setelah kenaikan harga terakhir pada Oktober 2015, maka Januari 2016 tepat tiga bulan setelahnya.

Menurut dia, hingga saat ini penentuan harganya masih ditinjau ulang. Hasilnya sudah diumumkan sebelum akhir tahun.

Kabar baik bukan? Mari kita tunggu saja

Jaga lilin hoho :o