Sun
Rss

Rabu, 23 Desember 2015

Adakah perusahaan nasional yang usianya di atas seratus tahun?

http://www.pacificplace.co.id/media/BRI-400x277.jpg


Adakah perusahaan nasional yang usianya di atas seratus tahun?

Pertanyaan itu sering diajukan para akademisi kepada saya. Susah juga mencarinya. Di negara-negara industri, itu sudah biasa.
Di Finlandia misalnya ada Nokia (150 tahun). Tetapi Nokia hanya menekuni bisnis gadget ponsel sekitar 21 tahun. Selebihnya perusahaan berumur panjang itu produk dan misi usahanya sudah jauh berubah.
Di Amerika Serikat (AS), pernah ada Kodak, tapi kini sudah mati. Juga ada WR Grace. Perusahaan ini berlokasi di Columbia, Maryland, AS, dengan bisnis utama bahan-bahan kimia.
Semuanya juga berubah, mengikuti zaman. Di Jepang ada Mitsui. Kalau di Jerman, persisnya di Munich, mungkin Anda cukup familiar dengan nama Siemens.
Adakah di Indonesia? Tentu ada. Hanya saja kebanyakan sudah terseok-seok dimakan usia. Misalnya, beberapa pabrik gula warisan Belanda.
Kalau Pertamina yang minggu lalu berulang tahun, baru merayakan usia ke 58. Meski belum seabad, lumayan menghibur karena ia sudah ada di Fortune 500 dan cukup sehat.
Jadi, siapa yang sudah lebih dari 100 tahun dan masih sehat?
Sengaja tulisan ini saya turunkan hari ini, karena hari ini ada perusahaan nasional yang merayakan usia ke-120, namun tetap gesit berinovasi. Bahkan bidang usahanya tak bergeser dari misi semula: microfinancing.
Seorang ilmuwan Amerika pernah mengatakan, harusnya yang diganjar hadiah Nobel bukan Moh Yunus, melainkan mendiang Raden Aria Wirya Atmadja. Sebab itulah tonggak awal sejarah microfinance yang mengilhami Yunus.
Tonggak sejarah itu berawal pada tanggal 16 Desember 1895, saat Raden Aria Wirya Atmadja dan kawan-kawannya mendirikan “De Poerkertosche Hulp - en Spaarbank der Inlandsche Hoofden” (Bank penolong dan tabungan bagi priyayi Poerwokerto) disingkat menjadi “Bank Priyayi Poerwokerto”.
Bank Penolong
Itulah cikal bakal dan misi gerakan microfinancing Indonesia: menolong keuangan rakyat. Sedemikian powerful-nya menolong ekonomi rakyat di sekitar Purwokerto, sampai-sampai ia ditakuti Belanda karena dianggap mampu menggerakkan kekuatan untuk melawan kolonialisme. Wajar kalau dalam perjalanannya ia pernah diambil Belanda.

Tak heran kalau itu pulalah yang mengantarkan masa kecil presiden ke 44 Amerika Serikat, Barack Obama berkenalan dengan Indonesia.

Ibunya, Ann Dunham datang ke Indonesia antara lain untuk meneliti tentang peranan microfinance dan bank penolong rakyat ini.
Kini bank penolong yang didirikan Raden Arya Wiryaatmaja itu dikenal sebagai PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI) .

Anda tentu bisa menyaksikannya dari dekat, karena dialah satu-satunya bank yang ada di hampir setiap desa di tanah air, bahkan mungkin ada di setiap pasar tradisional. Perusahaan ini masih sangat sehat bukan tanpa alasan. Lihat saja kinerjanya.

Sepanjang 2014, BRI membukukan laba bersih Rp 24,2 triliun. Kalau salah satu ukuran kinerjanya adalah besarnya angka penyaluran kredit, tahun lalu kredit yang disalurkan BRI mencapai Rp 490,41 triilun.

Untuk tahun 2015, di tengah kinerja perekonomian nasional yang kurang menggembirakan, BRI masih menargetkan penyaluran kreditnya Rp503,6 triliun.
Baiklah, saya tak mau mengajak Anda terlalu repot membaca angka-angka. Intinya, sampai kuartal III-2015, semuanya tumbuh menggembirakan.

Pengakuan soal kinerja ini juga datang dari majalah The Banker yang diterbitkan The Financial Times yang pada awal Desember 2015 memberikan penghargaan Bank of The Year 2015 Indonesia.

Dikutip dari kompas.com

Oleh Prof Rhenald Kasali
 @Rhenald_Kasali

0 komentar (comment):

Posting Komentar

Jaga lilin hoho :o